Di tengah hiruk pikuk modernisasi Kabupaten Malang, berdiri sebuah monumen bisu yang menyimpan ribuan kisah. Candi Singosari—saksi bisu kejayaan Kerajaan Singhasari pada abad ke-13—masih tegak berdiri meskipun usianya telah melampaui 700 tahun. Namun, daya tarik utama candi ini bukan hanya arsitekturnya yang megah, melainkan kisah cinta, ambisi, dan tragedi yang melekat padanya: kisah Ken Dedes, wanita legendaris yang konon merupakan perempuan paling cantik di tanah Jawa.
Mengunjungi Candi Singosari bukan sekadar wisata biasa. Ini adalah perjalanan waktu yang membawa kita kembali ke era kerajaan Hindu-Buddha, di mana intrik politik, cinta terlarang, dan pertumpahan darah menjadi bagian dari sejarah yang membentuk Nusantara. Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri jejak Ken Dedes dan memahami mengapa Candi Singosari layak menjadi destinasi wisata sejarah wajib di Malang.
Sejarah Singkat Kerajaan Singhasari
Kerajaan Singhasari berdiri pada tahun 1222 Masehi, didirikan oleh Ken Arok—seorang rakyat biasa yang naik menjadi raja melalui jalan penuh kontroversi. Singhasari merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang menguasai wilayah Jawa Timur dan menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit yang lebih besar.
Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan mendirikan Kerajaan Singhasari, menikahi Ken Dedes.
Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung) sebagai balas dendam.
Anusapati dibunuh oleh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir), dilanjutkan perebutan tahta.
Masa kejayaan Singhasari di bawah kepemimpinan Kertanegara, raja terakhir dan terhebat.
Kerajaan Singhasari runtuh setelah pemberontakan Jayakatwang, menandai berakhirnya era.
Kisah Legendaris Ken Dedes
Ken Dedes adalah putri seorang pendeta Buddha bernama Mpu Purwa. Ia dikenal memiliki kecantikan luar biasa yang konon "memancarkan cahaya" saat tersingkap pakaiannya—sebuah fenomena yang dalam kitab kuno disebut sebagai tanda wanita yang akan melahirkan raja-raja besar.
Kehidupan Ken Dedes berubah drastis ketika Tunggul Ametung, penguasa Tumapel (cikal bakal Singhasari), membawanya paksa menjadi istri. Ken Dedes hidup dalam pernikahan tanpa cinta, hingga Ken Arok—seorang pemuda ambisius yang bekerja sebagai pengawal—jatuh hati padanya.
"Ken Dedes digambarkan sebagai wanita yang memancarkan cahaya dari dalam tubuhnya, pertanda bahwa ia akan melahirkan garis keturunan raja-raja besar Nusantara."
— Kitab Pararaton
Untuk mewujudkan ambisinya, Ken Arok memesan keris sakti bernama Empu Gandring. Namun karena ketidaksabaran, Ken Arok membunuh sang empu sebelum keris selesai sempurna. Empu Gandring yang sekarat mengutuk bahwa keris tersebut akan membunuh tujuh orang termasuk Ken Arok sendiri. Kutukan ini kelak terbukti—keris tersebut menjadi alat pembunuhan berantai dalam keluarga kerajaan.
Keunikan Arsitektur Candi Singosari
Candi Singosari dibangun pada akhir abad ke-13 sebagai tempat pendharmaan (pemakaman simbolis) para raja Singhasari. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah, Candi Singosari memiliki karakteristik unik:
Struktur Bangunan
- Bahan Batu Andesit: Candi ini dibangun dari batu andesit hitam keabu-abuan yang sangat kokoh, berbeda dengan batu bata merah di candi-candi era Majapahit.
- Tidak Ada Atap: Candi Singosari tidak memiliki atap, diduga karena pembangunannya tidak selesai akibat runtuhnya kerajaan.
- Ornamen Kala-Makara: Di atas pintu masuk terdapat relief Kala (monster waktu) tanpa rahang bawah, melambangkan waktu yang terus berjalan.
- Arca Dwarapala: Dua patung raksasa penjaga (Dwarapala) setinggi 3,7 meter berdiri di sisi candi, menjaga pintu masuk dari roh jahat.
Arca Prajnaparamita: Wujud Ken Dedes
Salah satu peninggalan paling berharga dari era Singhasari adalah Arca Prajnaparamita—patung dewi kebijaksanaan Buddha yang dipercaya dibuat menyerupai wajah Ken Dedes. Arca setinggi 126 cm ini ditemukan di sekitar Candi Singosari pada tahun 1818 dan kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta.
Keindahan arca ini luar biasa: wajah tenang dengan senyum misterius, postur duduk bersila sempurna (padmasana), dan detail perhiasan yang sangat halus. Arca ini dianggap sebagai mahakarya seni pahat era Singhasari dan menjadi bukti visualisasi kecantikan Ken Dedes.
Informasi Praktis Berkunjung
Informasi Candi Singosari
Lokasi: Desa Candirenggo, Kec. Singosari, Kab. Malang
Jarak dari Kota Malang: ±12 km (30 menit)
Jam Buka: 07.00 - 17.00 WIB setiap hari
Tiket Masuk: Rp 5.000 (domestik) / Rp 10.000 (asing)
Fasilitas: Parkir, toilet, warung makan, guide lokal
Tips Berkunjung ke Candi Singosari
- Datang Pagi: Cahaya pagi (07.00-09.00) paling bagus untuk fotografi dan suasana lebih tenang.
- Pakai Alas Kaki Nyaman: Area candi berbatu dan berpasir, sandal jepit bisa membuat kaki lecet.
- Sewa Guide Lokal: Dengan biaya Rp 30.000-50.000, guide akan menjelaskan sejarah lengkap yang tidak ada di papan informasi.
- Hormati Tempat Sakral: Meskipun sudah menjadi situs wisata, candi ini masih dianggap keramat oleh sebagian masyarakat.
- Kombinasikan dengan Candi Lain: Di sekitar Singosari masih ada Candi Sumberawan dan Candi Jago yang bisa dikunjungi sekaligus.
🏛️ Ingin Tur Sejarah Candi Lengkap dengan Guide?
Maroon Travel menyediakan paket wisata sejarah ke candi-candi di Malang dengan guide profesional yang menguasai sejarah lokal!
Tanya Paket via WhatsAppDestinasi Sejarah Lain di Sekitar Singosari
Kecamatan Singosari dan sekitarnya menyimpan banyak situs sejarah yang bisa dikunjungi dalam satu hari:
- Candi Sumberawan: Stupa Buddha tertinggi di Jawa Timur, terletak di lereng Gunung Arjuna dengan suasana asri.
- Candi Jago: Candi yang menyimpan relief kisah Kunjarakarna dan Parthayajna, berjarak 5 km dari Singosari.
- Candi Kidal: Tempat pendharmaan Raja Anusapati, anak Ken Dedes yang membunuh ayah tirinya Ken Arok.
- Makam Sunan Giri II: Petilasan situs penyebaran Islam di era pasca-Majapahit.
"Sejarah bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cermin untuk memahami siapa kita hari ini dan ke mana kita akan melangkah esok."
Kesimpulan
Candi Singosari bukan sekadar tumpukan batu kuno—ia adalah jendela ke masa lalu yang membuka kisah cinta, ambisi, dan tragedi Ken Dedes serta para raja Singhasari. Mengunjungi candi ini adalah cara terbaik untuk memahami akar sejarah Nusantara, terutama bagaimana kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membentuk identitas Jawa Timur.
Dengan lokasi yang mudah dijangkau dari Kota Malang (hanya 30 menit), tiket masuk yang sangat terjangkau, dan nilai sejarah yang tak ternilai, Candi Singosari layak menjadi destinasi wajib bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Malang. Kombinasikan kunjungan Anda dengan candi-candi lain di sekitarnya untuk pengalaman wisata sejarah yang lebih lengkap.
Maroon Travel siap menemani perjalanan Anda menjelajahi situs-situs bersejarah di Malang dengan guide profesional yang akan membuat kunjungan Anda lebih bermakna. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis!


